Konseling teman sebaya untuk meningkatkan empati siswa

Authors

  • Ni Made Rahmi Suryawati Universitas Pendidikan Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v16i2.4247

Keywords:

empati, konseling kelompok, Konseling Teman Sebaya (KTS)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi pentingnya memiliki sikap empati dalam kehidupan sehari-hari. Sikap empati merupakan keterampilan dasar dalam menjalin hubungan sosial yang dapat diajarkan, dikembangkan, dan dilatih. Siswa merasa berharga dan bahagia apabila dapat diterima dalam situasi kelompok oleh sebayanya. Kekurangan hubungan sosial pada siswa mengakibatkan depresi hingga drop out sekolah. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan empati siswa melalui konseling teman sebaya (KTS). Secara khusus, bertujuan untuk (1) mengetahui profil empati siswa sebelum diberikan bantuan KTS, (2) mengetahui rumusan hipotetik program KTS pada siswa, dan (3) mengetahui efektivitas KTS untuk meningkatkan empati siswa. Populasi penelitian adalah siswa kelas VII dengan jumlah 175 orang yang berlokasi di SMP Laboratorium Percontohan UPI Bandung. Pemilihan lokasi penelitian disebabkan fenomena perilaku siswa yang kurang berempati dapat dilihat dari siswa susah bergaul, tidak akrab dengan teman, tidak peduli, ingin lebih populer, dan merasa tidak memiliki teman. Faktanya, terdapat 40% siswa pada kategori rendah, 45% siswa pada kategori sedang, dan hanya 15% siswa yang berada pada kategori tinggi, serta kurangnya jumlah guru bimbingan dan konseling. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen-kuasi dengan nonequivalent (pretest-posttest) control group design, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol tidak dipilih secara acak, untuk mengetahui perbedaan kelompok yang diberikan intervensi dengan kelompok yang tidak diberikan intervensi. Sebelum memberikan intervensi konselor sebaya diberikan pelatihan keterampilan KTS. Setelah intervensi, siswa yang memiliki empati rendah mendapatkan peningkatan skor dan perubahan perilaku yang positif. Sehingga, hasil temuan penelitian menunjukkan konseling teman sebaya efektif untuk meningkatkan empati siswa kelas VII SMP Laboratorium Percontohan UPI Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.

References

Ali, M., & Asrori, M. (2008). Psikologi remaja. Bumi Aksara.

Almasi, J. F. (1994). The nature of fourth graders’ sociocognitive conflicts in peer-led and researcher-led discussions of literature. Reading Research Quarterly, 29(4), 304–306.

Aring, C. D. (1958). Sympathy and empathy. Journal of the American Medical Association, 167, 448–452.

Astarini, I. (2013). Peningkatan empati melalui program berbasis penguatan sumber daya psikologis [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Atkinson, A. P. (2007). Face processing and empathy. In T. F. D. Farrow & P. W. R. Woodruff (Eds.), Empathy in mental illness (pp. 360–386). Cambridge University Press.

Auliyah, A. (2014). Efektivitas penggunaan media film untuk meningkatkan empati siswa [Skripsi]. Universitas Negeri Malang.

Bamberger, P., & Sonnenstuhl, W. J. (1995). Peer referral networks and utilization of a union-based EAP. The Journal of Drug Issues, 25(2), 291–312.

Barclay, J. H., & Harlan, W. J. (1995). Peer performance appraisals: The impact of ratee competence, ratee location, rating correctability on fairness perceptions. Group & Organization Management, 20(1), 39–60.

Baron, R. A., & Byrne, D. (2004). Psikologi sosial (Jilid 2). Erlangga.

Beaty, J. J. (1998). Observing development of the young child. Prentice-Hall.

Blatner. (2002). Relationship between competitiveness and empathy in 6 and 7 years old. Journal of Developmental Psychology, 15(2), 221–222.

Burley, S., Gutkin, T., & Naumann, W. (1994). Assessing the efficacy of an academic hearing peer tutor for a profoundly deaf student. American Annals of the Deaf, 139(4), 415–419.

Carr, R. A. (1981). Theory and practice of peer counseling. Canada Employment and Immigration Commission.

Charlebois, P., Leblanc, M., Tremblay, R. E., Gagnon, C., & Lavivee, S. (1995). Teacher, mother, and peer support in the elementary school as protective factors against juvenile delinquency. International Journal of Behavioral Development, 18(1), 1–22.

Chen, X. Y., Li, Z. Y., & Rubin, K. H. (1995). Social functioning and adjustment in Chinese children. Developmental Psychology, 31(4), 531–539.

Clark, K. B. (1980). Empathy: A neglected topic in psychological research. American Psychologist, 35, 187–190.

Colman, A. M. (2001). A dictionary of psychology. Oxford University Press.

Cotton, K. (2001). Developing empathy in children and youth. School improvement research series. Northwest Regional Educational Laboratory.

Cress, S. W., & Holm, D. T. (2000). Developing empathy through children’s literature. Education, 593–597.

Creswell, J. W. (2008). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (3rd ed.). Pearson.

Davis, M. H. (1980). A multidimensional approach to individual differences in empathy [Catalog of Selected Documents in Psychology]. Florida.

Davis, M. H. (1983). Measuring individual differences in empathy: Evidence for a multidimensional approach. Journal of Personality and Social Psychology, 44(1), 113–126.

Eisenberg, N. (2002). Empathy and its development. Cambridge University Press.

Eisenberg, N., & Strayer, J. (1987). The relation of empathy to prosocial and related behavior. Psychological Bulletin, 101(1), 91–119.

Emerson, B. L., & Hinkle, J. S. (1988). A police peer counselor uses reality therapy. Journal of Reality Therapy,8(1), 2–5.

Erhamwilda. (2011). Model konseling sebaya untuk meningkatkan kompetensi interpersonal siswa SMK [Disertasi tidak diterbitkan]. Universitas Pendidikan Indonesia.

Fidiyaningrum, A. (2006). Upaya meningkatkan empati mahasiswa dengan memanfaatkan media bimbingan [Skripsi]. Universitas Negeri Semarang.

Garton, A. F., & Gringart, E. (2005). The development of a scale to measure empathy in 8- and 9-year old children. Australian Journal of Education and Developmental Psychology, 5, 17–25.

Gladding, S. T. (2012). Group counseling: A specialty (6th ed.). Pearson Education.

Goleman, D. (1998). Kecerdasan emosional: Mendefinisikan ulang arti kecerdasan. Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, D. (2003). Social intelligence: Ilmu baru tentang hubungan antar manusia. Gramedia Pustaka Utama.

Graetz, B., & Shute, R. (1995). Assessment of peer relationships in children with asthma. Journal of Pediatric Psychology, 20(2), 205–216.

Joireman, J. A., Needham, T. L., & Cumming, A. (2002). Relationships between dimensions of attachment and empathy. North American Journal of Psychology, 4, 63–80.

Kurnia, R. (2014). Efektivitas bimbingan kelompok melalui teknik role playing untuk meningkatkan kemampuan empati peserta didik [Tesis]. Universitas Pendidikan Indonesia.

Kusminar, M. (2013). Program bimbingan pribadi sosial untuk meningkatkan empati anak melalui media permainan [Tesis]. Universitas Pendidikan Indonesia.

Laursen, E. K. (2005). Rather than fixing kids – build positive peer culture. Reclaiming Children and Youth, 14(3), 137–142.

Likert, R. (1932). A technique for the measurement of attitudes. Archives of Psychology, 140, 1–55.

Published

2016-08-26

How to Cite

Suryawati, N. M. R. (2016). Konseling teman sebaya untuk meningkatkan empati siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan, 16(2), 202-211. https://doi.org/10.17509/jpp.v16i2.4247