Bimbingan kelompok dengan teknik group exercises untuk mengembangkan resiliensi siswa
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v18i3.15005Keywords:
bimbingan kelompok, group exercises, resiliensiAbstract
Resiliensi merupakan kemampuan untuk tetap stabil dalam mempertahankan keseimbangan setelah menghadapi berbagai kesulitan dan kesengsaraan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji keefektifan program bimbingan kelompok dengan teknik group exercises untuk mengembangkan resiliensi siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode quasi experiment dengan desain non-equivalent pretest-posttest control-group design. Populasi penelitian berjumlah 421 orang dan sampel penelitian dipilih secara purposive sampling. Profil resiliensi siswa SMAN 1 Kota Bekasi mayoritas masuk kategori sedang. Program bimbingan kelompok dengan teknik group exercises terdiri dari rasional sebagai landasan pembuatan program, tujuan, pedoman dan pelaksanaan bimbingan kelompok, kompetensi konselor, sasaran intervensi dan prosedur pelaksanaan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami perubahan secara signifikan setelah diberikan treatment berupa bimbingan kelompok dengan teknik group exercises. Temuan penelitian menghasilkan program bimbingan kelompok dengan teknik group exercises efektif untuk mengembangkan resiliensi siswa di SMAN 1 Kota Bekasi. Hasil uji regresi sederhana menunjukkan bahwa korelasi antara bimbingan kelompok dengan teknik group exercises sebagai variabel independen dan resiliensi siswa sebagai variabel dependen cukup kuat. Rekomendasi program bimbingan kelompok dengan teknik group exercises ini ditujukan kepada pihak sekolah yang membutuhkan program bimbingan kelompok dengan teknik group exercises untuk mengembangkan resiliensi siswanya, guru bimbingan dan konseling dan bagi peneliti selanjutnya agar dapat mengembangkan penelitian dengan subjek yang berbeda seperti peserta didik di SMP atau SD sederajat atau bagi orang dewasa.
References
Bazarova, N. N., & Choi, Y. H. (2014). Self-disclosure in social media: Extending the functional approach to disclosure motivations and characteristics on social network sites. Journal of Communication, 64(4), 635–657.
Boeree, C. G. (2010). Personality theories. Prismasophie.
Borshuk, C. (2017). Managing student self-disclosure in class settings: Lessons from feminist pedagogy. Journal of the Scholarship of Teaching and Learning, 17(1), 78–86.
Collins, N. L., & Miller, L. C. (1994). Self-disclosure and liking: A meta-analytic review. Psychological Bulletin, 116(3), 457–475.
Derlega, V. J., & Berg, J. H. (1987). Self disclosure: Theory, research, and therapy. Springer Science-Business Media.
Devito, J. A. (2010). Komunikasi antara manusia. Karisma Publishing.
Emzir. (2018). Metodologi penelitian pendidikan: Kuantitatif dan kualitatif. Rajawali Pers.
Gusmawati, Taufik, & Iftidil. (2016). Kondisi self disclosure mahasiswa bimbingan dan konseling. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 4(2), 92–97.
Havighurst, R. J. (1997). Human development and education. David Mckey.
Houser, R. (2009). Counseling and educational research. SAGE Publications.
Ifdil. (2013). Konsep dasar self disclosure dan pentingnya bagi mahasiswa bimbingan dan konseling. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 13(1).
Johnson, D. W. (1981). Reaching out: Interpersonal effectiveness and self actualization. Prentice-Hall.
Jourard, S. M. (1971). Self-disclosure: An experimental analysis of the transparent self. Wiley-Interscience.
Kana. (2008). Keterbukaan diri pada janda cerai yang mencari pasangan melalui internet. Universitas Gunadarma.
Myers, D. G. (2012). Psikologi sosial. Salemba Humanika.
Omarzu, J. (2000). A disclosure decision model: Determining how and when individuals will self-disclose. Personality and Social Psychology Review, 4(2), 174–185.
Rain, S. A., Brunner, S. R., & Oman, K. (2014). Self-disclosure and new communication technologies: The implications of receiving superficial self-disclosures from friends. Journal of Social and Personal Relationships, 33(1), 42–61.
Rini, I. R. S. (2009). Hubungan antara keterbukaan diri dengan penyesuaian perkawinan pada pasangan suami istri yang tinggal terpisah. Psycho Idea, 7(2), 1693–1076.
Santrock, J. W. (2007). Remaja (Edisi 1, Jilid 2). Erlangga.
Sastama, G. D., Muslim, M., & Djannah, W. (2017). Keefektifan homeroom untuk meningkatkan keterbukaan diri siswa SMP. Jurnal Program Studi Bimbingan dan Konseling, 5(1).
Setianingsih, E. S., Sutoyo, A., & Purwanto, E. (2014). Pengembangan model bimbingan kelompok teknik pemecahan masalah untuk meningkatkan keterbukaan diri siswa. Jurnal Bimbingan Konseling, 3(2).
Supratiknya. (2016). Komunikasi antar pribadi tinjauan psikologis. Kanisius.
Tokic, A. (2010). Parental behaviors related to adolescents’ self-disclosure: Adolescents’ views. Journal of Social and Personal Relationships, 28(2), 201–222.
Veletsianos, G., & Stewart, B. (2016). Discreet openness: Scholars’ selective and intentional self-disclosures online. Social Media + Society, 2(3), 1–11.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2018 Haiatin Khasanatin, Nandang Rusmana, Nandang Budiman

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.