Arti kehidupan anak asuh panti asuhan
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v18i1.11058Keywords:
arti kehidupan, remaja asuhAbstract
Penelitian ini didasarkan pada fenomena remaja asuh yang mengalami disorientasi masalah kehidupan karena ditinggalkan orang tua sehingga mereka kehilangan sosok ideal dan menjadi ditempatkan di panti asuhan. Hal ini telah memicu mereka untuk memiliki arti hidup yang rendah (tidak berarti). Tujuan penelitian untuk mengetahui, memahami, dan menafsirkan fakta remaja yang tinggal di panti asuhan melalui tiga komponen makna kehidupan, yaitu: 1) nilai kreatif, 2) nilai eksperiensial, 3) nilai sikap. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilakukan pada dua orang remaja di Balai Perlindungan Sosial Anak (BPSAA) dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen makna kehidupan adalah: (1) nilai kreatif direalisasikan dengan mengikuti kegiatan remaja seperti kegiatan ekstrakurikuler atau lingkungan seperti bertani, (2) nilai apresiasi yang diperoleh dari dukungan yang diperoleh dari keluarga dan wali asuh, (3) nilai sikap diwujudkan dalam tanggung jawab atas sikap yang dilakukan dan menikmati kebersamaan dengan keluarga asuh. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proses penghayatan tentang kebermaknaan (meaningful) hidup pada remaja di Balai Perlindungan Sosial Anak (BPSAA) berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, disarankan untuk pembina panti asuhan untuk memahami karakter masing-masing anak asuhnya.
References
Bastaman, H. D. (2007). Logoterapi: Psikologi untuk menemukan makna hidup dan meraih hidup bermakna. Raja Grafindo Persada.
Blackburn, L., & Owens, G. P. (2015). The effect of self-efficacy and meaning in life on post-traumatic stress disorder (PTSD) and depression severity among veterans. Journal of Clinical Psychology, 71(3), 219-227.
Bukhori, B. (2006). Kesehatan mental mahasiswa ditinjau dari religiusitas dan kebermaknaan hidup. Jurnal Psikologika, 22(11), 45-58.
Corey, G. (2010). Teori dan praktek konseling & psikoterapi. Refika Aditama.
Frankl, V. E. (2008). Optimisme di tengah tragedi, analisis logoterapi (Terjemahan).
Hurlock, E. B. (1997). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (I. Soedjarwo & M. R. Sijabat, Penerj.). Erlangga.
Justika, S. B. (1999). Menuju masyarakat yang berketahanan sosial: Pelajaran dari krisis. Departemen Sosial R.I.
Purwakania, A. (2006). Psikologi perkembangan Islam. Rajawali Press.
Restine, L. N. (1997). Experience, meaning and principal development. Journal of Educational Administration, 35(3), 253-267.
Rivlin, A., Hawton, K., Marzano, L., & Fazel, S. (2010). Psychiatric disorders in male prisoners who made near-lethal suicide attempts: Case–control study. Journal of Clinical Psychology. https://doi.org/10.1192/bjp.bp.110.077883
Santrock, J. W. (2007). Child development (Edisi ke-11; M. Rahmawati & A. Kuswanti, Penerj.). Erlangga.
Sobur, A. (2009). Psikologi umum. Pustaka Setia.
Sugiyono. (2009). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Suseno, M. N. (2013). Efektivitas pembentukan karakter spiritual untuk meningkatkan optimisme terhadap masa depan anak yatim piatu. Jurnal Intervensi Psikologi, 5(1), 1-24.
Wong, P. T. P. (2010). Meaning therapy: An integrative and positive existential psychotherapy. Contemporary Psychotherapy, 40, 215-226.
Yusuf, S. (2008). Psikologi perkembangan anak & remaja. Rosdakarya.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2018 Syifa Jauhar Nafisah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.