Dekonstruksi motif batik keraton Cirebon: Pengaruh ragam hias keraton pada motif batik Cirebon

Authors

  • Agus Nursalim Universitas Pendidikan Indonesia
  • Harry Sulastianto Universitas Pendidikan Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v15i1.2432

Keywords:

batik keraton, Cirebon, dekonstruksi, motif

Abstract

Motif batik Keraton Cirebon memiliki makna simbolik dan filosofis yang mengandung pesan moral. Ide dasar batik keraton adalah dari ragam hias Keraton Cirebon, naskah dan mushaf Al-Qur’an pada abad 20. Tekanan dan resistensi kebudayaan Barat pada dekade 70-an yang bersifat progresif utopis telah mengubur berbagai tradisi dan kebudayaan etnik, identitas lokal, subculture, yang dianggap tidak sesuai dengan semangat zaman modern. Arus informasi global telah memperkaya cakrawala pengetahuan lokal yang mampu membangkitkan kesadaran lokal yaitu kesadaran ontologis di antara kebudayaan plural yang imperialis dan represif yang akan menggiring pada krisis identitas. Identitas, menurut Jonathan Rutherford, merupakan satu mata rantai masa lalu dengan hubungan-hubungan sosial, kultural, dan ekonomi di dalam ruang dan waktu satu masyarakat hidup. Kini motif batik keraton telah menjadi identitas batik Cirebon. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang mengkaji hingar-bingarnya era kebangkitan kembali motif batik keraton Cirebon setelah mengalami "mati suri" selama berpuluh-puluh tahun. Permasalahannya adalah: Bagaimana pola ragam hias Keraton Cirebon mengalami dekonstruksi menjadi motif batik keraton Cirebon? Apakah makna filosofis dan makna simbolik motif batik keraton mengalami dekonstruksi setelah berkembang pesat menjadi batik Cirebon? Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan analisis data hasil penelitian dilakukan dengan pendekatan teori "semiotika dekonstruktif" dari Jacques Derrida dan Ferdinand de Saussure. Kajian terhadap bahasa dan makna (petanda) simbolik dilakukan dengan teorinya Ferdinand de Saussure. Sedangkan penafsiran makna "logos" menggunakan pendekatan teori semiotika dekonstruktif Jacques Derrida. Dari hasil penelitian diperoleh informasi secara akurat dan benar mengenai proses dekonstruksi bentuk ragam hias ke dalam motif batik keraton hingga menjadi "building character Batik Cirebon" beserta makna-maknanya yang telah didukung oleh teori-teori yang ada.

References

Alwasilah, A. C. (2002). Pokoknya kualitatif. Rosda.

Derrida, J. (1974). Of grammatology. The Johns Hopkins University Press.

De Saussure, F. (1974). A course in general linguistics. Fontana.

Dias, A. (2013). Akulturasi budaya batik Cirebon: Ketika kearifan lokal melebur dengan beragam budaya. Majalah Sinaya, (2), April 2013.

Endah, A. (2014, Agustus 24). Keraton Kasepuhan: Menapaki semangat pluralisme. Pikiran Rakyat.

Habermas, J. (1990). Modernity: An incomplete project. In Postmodern culture. Pluto Press.

Harland, R. (1987). Superstructuralism: The philosophy of structuralism and post-structuralism. Routledge.

Hasanudin. (2001). Batik pesisiran: Melacak pengaruh etos dagang santri pada ragam hias batik. Kiblat Buku Utama.

Hood, B. H. (2014). Semiotik dan dinamika sosial budaya (Edisi ke-3). Komunitas Bambu.

Irianto, B. R. (2009). Makna simbolik batik kraton Cirebon.

Ishwara, H. (2011). Batik pesisir pusaka Indonesia. KPG (Koleksi Pustaka Gramedia).

Kaplan, D. (1972). Culture theory. Prentice Hall.

Levin, D. M. (1988). The opening of vision. Routledge.

Pakpahan, J. (2002). Perkembangan pendidikan menengah kejuruan pada pelita VI. Departemen Pendidikan Nasional.

Piliang, Y. A. (1999). Sebuah dunia yang dilipat. Mizan.

Samsi, S. S. (2011). Batik: From the court of Java and Sumatra, techniques, motifs & pattern: Batik Yogya & Solo. Titian Foundation.

Sewan, S. S. (1980). Seni kerajinan batik Indonesia. Balai Penelitian Batik dan Kerajinan, Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri, Departemen Perindustrian RI.

Sturrock, J. (1979). Structuralism and since. Oxford University Press.

Sudjoko. (1972). Hubungan desain batik dengan pemasaran [Artikel seminar]. Universitas Trisakti.

Sukmadinata, N. S. (2005). Metode penelitian pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.

Suparno, E. (2008). Kompetensi, jabatan penghubung dunia pendidikan dan industri. http://www.Edubenchmark.com

Syamsuri, B. (1995). Kisah walisongo penyebar agama Islam di tanah Jawa. Apollo Lestari.

Toekio, S. M. (2000). Mengenal ragam hias Indonesia. Angkasa.

Yin, R. K. (1991). Research case study. Sage.

Yudoseputro, W. (2008). Jejak-jejak seni rupa Indonesia lama. Yayasan Seni Visual Indonesia, IKJ.

Published

2015-04-24

How to Cite

Nursalim, A., & Sulastianto, H. (2015). Dekonstruksi motif batik keraton Cirebon: Pengaruh ragam hias keraton pada motif batik Cirebon. Jurnal Penelitian Pendidikan, 15(1), 27-40. https://doi.org/10.17509/jpp.v15i1.2432

Most read articles by the same author(s)

Similar Articles

You may also start an advanced similarity search for this article.