Konstruksi bahan ajar kimia SMA konteks termokimia berbasis environment discovery learning untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v20i2.25524Keywords:
environtment discovery learning, modul, rekonstruksi, termokimiaAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi modul kimia konteks Termokimia berbasis Environment Discovery Learning (EDL). Hasil observasi menunjukkan, peserta didik kelas XI IPA SMAN 3 Jayapura memiliki nilai kimia yang cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan lagi. Hasil penelitian ini untuk mengetahui kelayakan bahan ajar kimia konteks termokimia berbasis (EDL) yang direkonstruksi. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah tahapan model educational reconstruction (MER) yaitu kelayakan bahan ajar, uji skala terbatas, serta tanggapan guru dan peserta didik. Angket validasi ahli terdiri dari validasi konten materi, media, dan bahasa. Nilai validasi expert judgment konten materi sebesar 69.49% (layak digunakan), media sebesar 63.89% (layak digunakan), bahasa sebesar 86.36% (sangat layak digunakan), dan nilai rata-rata expert judgment dari ketiga validator sebesar 73,24% (layak). Nilai tanggapan guru terhadap modul sebesar sangat positif sebesar 62.4% dan positif sebesar 37.6%, tanggapan siswa sangat positif 62.4%, positif sebesar 37.6%. Tes yang dilakukan kepada peserta didik menggunakan 30 butir soal pilihan ganda pre-test dan post-test dengan hasil n-Gain sebesar 0,5 termasuk pada kategori sedang artinya terjadi peningkatan pemahaman konsep peserta didik.
References
Arends, R. (2008). Learning to teach. Pustaka Pelajar.
Ariyana, L. T. (2011). Analisis butir soal ulangan akhir semester gasal IPA kelas IX SMP di Kabupaten Grobogan. Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika, 10(1). https://jurnal.uns.ac.id/jmpf/article/view/42084
Budiningsih. (2005). Model discovery learning. Pustaka Mandiri.
Doloksaribu, F., Mudzakir, A., Sholihin, H., & Sudargo, F. (2014). Model education reconstruction (MER) bahan ajar penelitian laboratorium (PL) konteks zeolit berbasis problem solving-decision making (PSDM). Jurnal Penelitian Pendidikan A & A (Semarang), 31(2), 20–29. https://doi.org/10.15294/jpp.v31i2.5694
Duit, R. (2007). Science education research internationally: Conceptions, research methods, domains of research. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 3(1), 3–15. https://doi.org/10.12973/ejmste/75369
Duit, R., Gropengießer, H., Kattmann, U., Komorek, M., & Parchmann, I. (2012). The model of educational reconstruction – A framework for improving teaching and learning science. In Science education research and practice in Europe (pp. 13–37). Sense Publishers. https://doi.org/10.1007/978-94-6091-900-8_2
Erlidaati, & Habibati. (2020). Penerapan model discovery learning untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada materi termokimia. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia, 8(1), 92–104. https://doi.org/10.24815/jpsi.v8i1.16099
Indriyanti, R., & Prasetyo, Z. K. (2018). Improving the experiment report writing skills of fifth graders through the discovery learning method. Jurnal Prima Edukasia, 6(1), 113–121. https://doi.org/10.21831/jpe.v6i1.17284
Istikomah, I. (2013). Penerapan model discovery learning untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar geografi pada materi pemanfaatan lingkungan hidup kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan di SMA Batik 1 Surakarta tahun ajaran 2013/2014. Pendidikan Geografi, 2(2), 87–98.
Nur, F., Tayeb, T., Widayanti, V. M., Sriyanti, A., & Nurhidayah, N. (2020). Effectiveness of discovery learning model on students’ mathematical problem solving ability. MaPan, 8(1), 134–145. https://doi.org/10.24252/mapan.2020v8n1a10
Prakasiwi, R., & Ismanto, B. (2018). Efforts to improve scientific thinking skills through application discovery model-based learning environment around. Journal of Educational Science and Technology (EST), 1(1), 151–160. https://doi.org/10.26858/esf.v1i1.6047
Pratiwi, F. A., Hairida, & Rasmawan, R. (2014). Pengaruh penggunaan model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 3(7), 1–18.
Resty, Z. N., Muhardjito, M., & Mufti, N. (2019). Discovery learning berbantuan schoology: Upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan, 4(2), 267–273. https://doi.org/10.17977/JPTPP.V4I2.12040
Rostikawati, D. A., & Permanasari, A. (2016). Rekonstruksi bahan ajar dengan konteks socio-scientific issues pada materi zat aditif makanan untuk meningkatkan literasi sains siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA, 2(2), 162–173. https://doi.org/10.21831/jipi.v2i2.8814
Rubini, B., Pursitasari, I. D., Ardianto, D., & Nugraha, H. (2017). Improving students’ scientific literacy on environmental pollution through laboratory-based learning. Jurnal Pengajaran MIPA, 22(2), 205–210. https://doi.org/10.18269/JPMIPA.V22I2.8459
Yerimadesi, Bayharti, Handayani, F., & Legi, W. F. (2017). Pengembangan modul kesetimbangan kimia berbasis pendekatan saintifik untuk kelas XI SMA/MA. Jurnal Sains dan Teknologi, 8(1), 97–105. https://doi.org/10.31958/js.v8i1.444
Yerimadesi, Putra, A., & Ririanti, R. (2017). Efektivitas penggunaan modul larutan penyangga berbasis discovery learning terhadap hasil belajar siswa kelas XI MIA SMAN 7 Padang. Jurnal Eksakta Pendidikan (JEP), 1(1), 23–29. https://doi.org/10.24036/jep/vol1-iss1/29.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2020 Florida Emmy Doloksaribu, Werima Gombo, Irwandi Yogo Suaka

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.