Metode pembelajaran investigasi kelompok untuk meningkatkan kecakapan sosial siswa sekolah dasar (Penelitian eksperimen kuasi di kelas V SDN Sinarjati Kecamatan Jatinangor tahun pelajaran 2015/2016)
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v16i2.4226Keywords:
investigasi kelompok, konstruktivisme, kooperatif, sosiokulturalAbstract
Tujuan penelitian ini untuk menghasilkan metode pembelajaran investigasi kelompok (PIK) yang dapat meningkatkan kecakapan sosial siswa sekolah dasar. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuantitatif jenis eksperimen kuasi. Prosedur penelitian yang digunakan yaitu: studi pendahuluan, mengembangkan rancangan hipotetik metode, validasi metode, dan evaluasi metode. Populasi penelitian ini merupakan semua siswa kelas V SDN Sinarjati berjumlah 55 orang dan sampelnya sebanyak 20 orang. Instrumen yang digunakan untuk mengukur efektivitas metode pembelajaran investigasi kelompok (PIK) yaitu instrumen kecakapan sosial. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan hasil studi pendahuluan profil kecakapan sosial pada siswa kelas V SDN Sinarjati secara umum masih banyak siswa yang termasuk kriteria kurang cakap. Upaya meningkatkan kecakapan sosial dengan menerapkan rancangan hipotetik metode pembelajaran investigasi kelompok (PIK) sebanyak 10 pertemuan, setiap pertemuannya selama tiga jam pelajaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran investigasi kelompok (PIK) terbukti efektif meningkatkan kecakapan sosial siswa kelas V SDN Sinarjati. Implikasinya bagi pengembangan teori dan praktik psikologi pendidikan di sekolah dasar. Rekomendasi penelitian ini ditujukan pada sekolah, guru, dan penelitian berikutnya yaitu tentang metode pembelajaran investigasi kelompok (PIK) untuk meningkatkan kecakapan sosial siswa sekolah dasar.
References
Adler, A. (1997). Understanding life. Oneworld Publications.
Albrecht, K. (2006). Social intelligence: The new science of success. Jossey-Bass.
Apriyadi, D., Supardi, & Sarengat. (2015). Penerapan model group investigation untuk meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar. Jurnal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung, 2(1), 63–85.
Dharma, S. (2008). Kriteria dan indikator keberhasilan pembelajaran. Direktur Tenaga Kependidikan & Ditjen PMPTK.
Ganaie, M. Y., & Mudasir, H. (2015). A study of social intelligence & academic achievement of college students of District Srinagar, J&K, India. Journal of American Science, 11(3), 23–27.
Goleman, D. (2006). Social intelligence. Bantam Dell.
Hurlock, E. (1978). Perkembangan anak jilid 1 (M. Tjandrasa & M. Zarkasih, Terj.). Erlangga.
Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2008). The teacher’s role in implementing cooperative learning in the classroom. Springer Science+Business Media.
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2009). Models of teaching (A. F. & Ateilla M., Terj.). Pustaka Pelajar.
Kagan, S., & Kagan, M. (2009). Kagan cooperative learning. Kagan Publishing.
Njoroge, C. N., & Yazdanifard, R. (2014). The impact of social and emotional intelligence on employee motivation in a multigenerational workplace. Global Journal of Management and Business Research: Administration and Management, 14(3), 30–36.
Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2014). Menyelami perkembangan manusia buku 2. Salemba Humanika.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Schunk, D. H. (2012). Learning theories (E. Hamidah & R. Fajar, Terj.). Pustaka Pelajar.
Shlomo, S., & Shachar, H. (1988). Language and learning in the cooperative classroom. Springer-Verlag.
Slavin, R. E. (2005). Cooperative learning (N. Yusron, Terj.). Nusa Media.
Suyono, H. (2007). Social intelligence. Ar-Ruzz Media.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2016 Wasmana, Juntika Nurihsan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.