Pengembangan model pembelajaran berbasis storytelling: sebuah terobosan dalam upaya meningkatkan output pembelajaran bahasa Inggris anak usia dini

Authors

  • Sri Setyarini Universitas Pendidikan Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v15i2.1293

Keywords:

fun, inovasi, post-assesmen, pre-assesmen, solusi, storytelling

Abstract

Penelitian ini terfokus pada pengembangan model pembelajaran berbasis storytelling dalam upaya meningkatkan hasil pembelajaran bahasa Inggris anak usia dini. Subjek penelitian ini adalah kelas 4A SD PN Setiabudhi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jenis cerita seperti apa yang sesuai untuk siswa SD, bagaimana mengimplementasikan dan apa kendala dan solusi yang perlu diambil. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung dalam dua siklus. Selain hasil observasi kelas sebagai hasil selama tindakan, interview kepada guru dan siswa juga dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat yang melengkapi data dari observasi kelas. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam berbahasa Inggris, pre-assesmen diberikan. Sebaliknya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa meningkat, mereka diberi post-assesment. Materi dalam pre dan post assesmen tidak sama persis tetapi beberapa soal disusun secara acak penomorannya sehingga siswa tidak dapat menghafal jawabannya. Data yang terkumpul dari beberapa sumber dianalisis dengan mengacu pada teori pembelajaran anak usia dini dan menginterpretasikannya. Hasil analisis kemudian dideskripsikan untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian. Secara umum, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa storytelling dapat dijadikan salah satu alternatif dalam meningkatkan hasil pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa SD. Hal ini dikarenakan model ini dapat menawarkan banyak kesempatan kepada siswa untuk berlatih berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Namun demikian, ada beberapa kendala yang masih dihadapi oleh guru dalam menerapkan metode ini, di antaranya: bahan cerita yang masih terbatas, tidak memadainya waktu untuk pelajaran bahasa Inggris, kelas yang besar, dan target pencapaian materi yang ditentukan oleh kurikulum dan silabus membuat guru kurang leluasa dalam menerapkan metode ini. Mempertimbangkan kendala tersebut, mereka mengajukan beberapa solusi yaitu: membuat sistem co-teachers dengan dosen EYL (English for Young Learners), penambahan jam pelajaran, meningkatkan sarana dan prasarana, dan partisipasi aktif dari stakeholders.

References

Allington, R. L. (2002). What I’ve learned about effective reading instruction: From a decade of studying exemplary classroom teachers. Phi Delta Kappan, 83(10), 740–747.

Annamaria, P. (2006). Teaching young language learners. Oxford University Press.

Brumfit, C., Moon, J., & Tongue, R. (Eds.). (1984). Teaching English to children: From practice to principle. Nelson.

Cameron, L. (2001). Teaching languages to young learners. Cambridge University Press.

Cook, V. (1991). Second language learning and language teaching. Routledge.

Corner, C. (1998). Assessment in action in the primary school. Falmer Press.

Darling-Hammond, L. (2005). Preparing teachers for a changing world. Jossey-Bass.

Ellis, R. (1994). The study of second language acquisition. Oxford University Press.

Grace, C. E., & Charner, K. (1998). The portfolio book. Gryphon House.

Halliwell, S. (1992). Teaching English in the primary classroom. Longman.

Ioannou-Georgiou, S., & Pavlou, P. (2003). Assessing young learners. Oxford University Press.

Justice, L. M., Meier, J., & Walpole, S. (2005). Learning new words from storybooks: An efficacy study with at-risk kindergartners. Language, Speech, and Hearing Services in Schools, 36(1), 17–32.

Linse, C. T. (2005). Practical English language teaching: Young learners. McGraw-Hill.

Lowe, R., & Target, F. (1998). Helping students to learn. Richmond.

Moon, J., & Nikolov, M. (Eds.). (2000). Research into teaching English to young learners. Addison-Wesley.

Mooney, C. B. (2000). Theories of childhood: An introduction to Dewey, Montessori, Erikson, Piaget, and Vygotsky. Redleaf Press.

Musthafa, B. (2003). EFL for young learners. Due Like Project.

Musthafa, B. (2008, Februari). Biarkan anak-anak bermain. Englishiana Journal.

Nunan, D. (1989). Designing tasks for the communicative classroom. Cambridge University Press.

Orton, J. K. (1999). Growing up with English. Office of English Language Programs.

Pinter, A. (2006). Teaching young language learners. Oxford University Press.

Smith, K. (1997). Assessing and testing young learners. IATEFL.

Suyanto, K. (1998). Penelitian tindakan kelas. Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Menengah, Ditjen Dikti.

Suyanto, K. (2003). Contextual teaching and learning. Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Todd, S. H. M. (2003). Know your grammar: What the knowledge of syntax and morphology in an L2 reveals about critical periods for second/foreign language acquisition. Dalam M. P. G. Mayo & M. L. G. Lecumberri (Eds.), Age and the acquisition of English as a foreign language (hlm. 59–73). Multilingual Matters.

Weir, C. J. (1993). Understanding and developing language tests. Prentice Hall.

Published

2015-08-28

How to Cite

Setyarini, S. (2015). Pengembangan model pembelajaran berbasis storytelling: sebuah terobosan dalam upaya meningkatkan output pembelajaran bahasa Inggris anak usia dini. Jurnal Penelitian Pendidikan, 15(2), 1-8. https://doi.org/10.17509/jpp.v15i2.1293

Most read articles by the same author(s)