Penguatan karakter nasionalisme melalui habituasi pada siswa SMP wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v19i2.19764Keywords:
habituasi, karakter nasionalisme, peserta didik, timor leste, wilayah perbatasanAbstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perilaku peserta didik di wilayah perbatasan yang cenderung bersikap, berbahasa, berbudaya hingga menyukai penggunaan produk dari Timor Leste dibandingkan Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan penguatan karakter nasionalisme melalui pembiasaan (habituasi) di SMPN Silawan. Proses penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik yang digunakan oleh sekolah dalam menguatkan karakter nasionalisme peserta didik adalah melalui pembiasaan (habituasi). Melalui pembiasaan ini, sekolah menyelenggarakan best practice berupa program dan kegiatan-kegiatan yang bervariatif untuk menguatkan karakter nasionalisme peserta didik. Adapun program pembiasaan itu meliputi upacara bendera, paskibra, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, menyanyikan lagu kebangsaan sebelum dan mengakhiri pembelajaran, penyambutan tamu kenegaraan di wilayah perbatasan, penggunaan yel-yel kebangsaan, hingga keteladanan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui program pembiasaan (habituasi) yang diselenggarakan oleh sekolah, mampu untuk menguatkan karakter nasionalisme peserta didik. Hal tersebut dibuktikan oleh perilaku dan juga aktivitas sehari-hari peserta didik yang sudah mencintai produk dalam negeri, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, hingga merasa sangat mencintai Indonesia.
References
Amirulloh. (2015). Teori pendidikan karakter remaja dalam keluarga. Alfabeta.
Anwar, C. (2014). Internalisasi semangat nasionalisme melalui pendekatan habituasi (perspektif filsafat pendidikan). Analisis: Jurnal Studi Keislaman, 14(1), 159–172. https://doi.org/10.42042/ANALISIS.V14I1.653
Aqib, Z. (2011). Pendidikan karakter: Membangun perilaku positif anak bangsa. Yrama Widya.
Asmani, J. M. (2011). Buku panduan internalisasi pendidikan karakter di sekolah. Diva Press.
Azzet, A. M. (2013). Urgensi pendidikan karakter di Indonesia. Ar-Ruzz Media.
Bański, J., & Janicki, W. (2013). The influence of the EU’s eastern frontier on the socioeconomic situation of border areas. European Urban and Regional Studies, 20(3), 299–313. https://doi.org/10.1177/0969776411432991
Berkowitz, M. W., & Fekula, M. J. (1999). Educating for character. About Campus: Enriching the Student Learning Experience, 4(5), 17–22.
Creswell, J. W. (2012). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (4th ed.). Pearson.
Gonzalez-Torres, M. A., & Fernandez-Rivas, A. (2014). Some reflections on nationalism, identity and sexuality. International Forum of Psychoanalysis, 23(3), 135–143. https://doi.org/10.1080/0803706X.2013.794958
Haselsberger, B. (2014). Decoding borders. Appreciating border impacts on space and people. Planning Theory and Practice, 15(4), 505–526. https://doi.org/10.1080/14649357.2014.963652
Komalasari, K., & Saripudin, D. (2017). Pendidikan karakter: Konsep dan aplikasi living values education. Refika Aditama.
Muchtarom, M., Budimansyah, D., & Suryadi, A. (2016). The implementation of integrated education to develop the intact personality of students. The New Educational Review, 43(1), 147–156.
Samani, M., & Hariyanto. (2017). Pendidikan karakter konsep dan model. Remaja Rosdakarya.
Saptono. (2011). Dimensi-dimensi pendidikan karakter: Wawasan, strategi, dan langkah praktis. Erlangga.
Schack, M. (2001). Regional identity in border regions: The difference borders make. Journal of Borderlands Studies, 16(2), 99–114. https://doi.org/10.1080/08865655.2001.9695576
Taufik. (2014). Pendidikan karakter di sekolah: Pemahaman, metode penerapan, dan peranan tiga elemen. Jurnal Ilmu Pendidikan, 20(1), 59–65.
Walters, W. (2006). Border/control. European Journal of Social Theory, 9(2), 187–203. https://doi.org/10.1177/1368431006063332.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2019 Fransiskus M. P. Keraf, Kokom Komalasari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.