Principal role in motivating master to increase in SMK Widya Dirgantara Bandung

Authors

  • Marjati Rochaeni SMK Mutiara Bandung

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v16i2.4232

Keywords:

kepala sekolah, motivasi, rasa kekeluargaan

Abstract

Tujuan penelitian ini mengetahui cara kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mengatasi berbagai faktor yang menyebabkan kurangnya rasa kekeluargaan di SMK Widya Dirgantara Bandung, untuk mengetahui tentang upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam memotivasi guru untuk mempererat rasa kekeluargaan di lingkungan SMK Widya Dirgantara Bandung, metode penelitian yang digunakan yaitu dengan menggunakan pendekatan kualitatif, sebab merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu kesatuan atau lingkungan yang ada pada kondisi alamiah, yaitu fenomena yang ada di lingkungan SMK Widya Dirgantara dalam mendeskripsikan peran kepala sekolah dalam memotivasi guru untuk meningkatkan rasa kekeluargaan, menggunakan pengumpulan secara kualitatif maka metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mengatasi faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya rasa kekeluargaan seperti adanya sikap individuali antara guru di sekolah, maka kepala sekolah di SMK Dirgantara Bandung menerapkan kepemimpinan dengan sikap kekeluargaan yaitu rajin, disiplin, bijaksana, tegas, toleransi dan tidak cepat emosi, penuh rasa-rasa empati, bijaksana dan jujur serta adil, sabar dan penuh ramah tamah sehingga dapat dapat membuat lingkungan kerja menjadi nyaman. Upaya yang dilakukan kepala sekolah dalam memotivasi guru untuk mempererat rasa kekeluargaan di lingkungan SMK Widya Dirgantara Bandung, kepala sekolah memotivasi guru agar memiliki semangat kekeluargaan biasanya kepala sekolah menanamkan bahwa semua warga sekolah adalah satu keluarga yang harus memiliki rasa saling hormat-menghormati dan rasa saling peduli, untuk memotivasi guru agar memiliki semangat kekeluargaan. Kesimpulan, cara kepala sekolah dalam memberi motivasi pada guru biasanya memberi dukungan, arahan kepada guru untuk mengikuti workshop, pendidikan, seminar, acara tukar pendapat atau dialog dengan mengundang guru dari luar sekolah, mengadakan rekreasi, acara makan bersama, acara rapat bersama orang tua murid, memberikan hadiah untuk guru yang berprestasi bisa berupa barang atau uang juga piagam penghargaan.

References

Direktorat Pembinaan SMK. (2005). Peranan kepala sekolah sebagai kunci keberhasilan SMK. Departemen Pendidikan Nasional.

DuBrin, A. (2005). Leadership (Terjemahan). Prenada Media.

Ibukun, W. O., Oyewale, B. K., & Abe, T. O. (2011). Personality characteristics and principal leadership effectiveness in Ekiti State. International Journal of Leadership Studies, 6, 247–262.

Imam I., & Turangga, R. M. (2013). Peranan kepala sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan melalui konsep manajemen berbasis sekolah: Studi kasus pada SLTP Swasta Kota Bandung.

Mulyasa, E. (2009). Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK. Remaja Rosdakarya.

Nimran, U. (2004). Perilaku organisasi. Citra Media.

Robinson, S. (1996). Organizational behavior (Terjemahan). Bhuana Ilmu Populer.

Siagian, S. (2002). Kiat meningkatkan produktivitas kerja. Rineka Cipta.

Supriadi. (1998). Mengangkat citra dan martabat guru. Adi Cita Bhayu Nusa.

Suryadi, I. (2009). Kontribusi persepsi guru tentang supervisi akademik kepala sekolah dan motivasi berprestasi guru terhadap kinerja mengajar guru di SMP Negeri Kabupaten Majalengka [Tesis]. Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Usman, M. (2002). Menjadi guru profesional. Remaja Rosdakarya.

Wiyonoroto. (2006). Pengaruh komite, pengawas dan kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SMAN 7 Purworejo [Tesis]. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Published

2016-08-26

How to Cite

Rochaeni, M. (2016). Principal role in motivating master to increase in SMK Widya Dirgantara Bandung. Jurnal Penelitian Pendidikan, 16(2), 127-136. https://doi.org/10.17509/jpp.v16i2.4232