Penelitian terhadap struktur cerita, konteks, ko-teks, proses pewarisan, fungsi, nilai-nilai, dan ancangan model revitalisasi tradisi lisan Jemblung Jawa Timur
DOI:
https://doi.org/10.17509/jpp.v15i1.1287Keywords:
ancangan revitalisasi, fungsi, ko-teks, konteks, nilai, proses pewarisan, struktur cerita, tradisi lisan jemblungAbstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa tradisi lisan Jemblung merupakan tradisi lisan yang dapat diapresiasi sebagai sebuah kesenian yang hampir punah padahal kaya akan nilai-nilai luhur yang dapat dimanfaatkan baik untuk pendidikan formal maupun nonformal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan menggunakan pedoman wawancara dan catatan lapangan. Temuan dalam penelitian ini meliputi: (1) struktur cerita dalam tradisi lisan Jemblung, yang diklasifikasikan dalam alur, tokoh dan penokohan, dan latar, (2) aspek konteks yang meliputi konteks budaya, sosial, situasi, dan ideologi, (3) ko-teks dalam tradisi lisan Jemblung diklasifikasikan dengan konsep antropolinguistik, meliputi: (a) deskripsi paralinguistik, (b) gestur (c) penjagaan antarpelaku, dan (d) unsur material: pakaian, penataan lokasi dan dekorasi, penggunaan properti dan fungsinya, (4) proses pewarisan dalam tradisi lisan Jemblung ini dibagi menjadi dua yakni proses menjadi pemain dan proses penciptaan cerita, (4) fungsi tradisi lisan Jemblung sebagai berikut: (a) alat pengesahan kebudayaan, (b) pemaksa berlakunya norma di masyarakat, (c) alat pendidikan, (d) hiburan (e) media dakwah, dan (f) media propaganda tematik. Nilai-nilai yang ditemukan dalam tradisi lisan Jemblung didominasi oleh nilai religi dan nilai budaya.
References
Ali, M. S. (2009). Transformasi pertunjukan kesenian Jemblung “Putra Budaya” di Dusun Kemuning Kelurahan Lirboyo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri [Skripsi]. Universitas Negeri Malang.
Darni. (2010). Modifikasi seni Jemblung di Ponorogo. Jurnal Seni Budaya Jawa Timur, 3, 1–16.
Effendi, R. (2010). Bahasa dalam wayang Jemblung di Kabupaten Tulungagung [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Negeri Malang.
Finnegan, R. (1989). Oral traditions and the verbal arts. Routledge.
Hutomo, S. S. (1987). Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban [Disertasi tidak diterbitkan]. Universitas Indonesia.
Hutomo, S. S. (1991). Mutiara yang terlupakan. HISKI.
Jauhari, H. (2010). Nilai religius dalam karya sastra. Arfino Raya.
Koentjaraningrat. (1994). Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
Prabowo. (2012). Seni Jemblung Murtadho dari Desa Tunjung kajian etnomusikologi [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Negeri Malang.
Rahmawati. (2008). Nilai-nilai pembangunan masyarakat desa dalam kesenian Jemblung di Desa Tunjung Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar [Skripsi tidak diterbitkan]. Universitas Negeri Malang.
Saptaria, R. E. (2006). Acting handbook. Rekayasa Sains.
Sibarani, R. (2010). Kearifan lokal, hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. ATL.
Sims, M. C., & Stephens, M. (2005). Living folklore: An introduction to the study of people and their traditions. Utah State University Press.
Stanton, R. (2007). Teori fiksi. Pustaka Pelajar.
Sudjiman, P. (1991). Memahami cerita rekaan. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sukatman. (2011). Butir-butir tradisi lisan Indonesia. LaksBang Pressindo.
Taum, Y. Y. (2011). Studi sastra lisan (Sejarah, teori, metode, dan pendekatan disertai contoh dan penerapannya). Lamalera.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2015 Peni Puspitasari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.