Kearifan lokal masyarakat Sunda dalam memitigasi bencana dan aplikasinya sebagai sumber pembelajaran IPS berbasis nilai

Authors

  • Enok Maryani Universitas Pendidikan Indonesia
  • Ahmad Yani Universitas Pendidikan Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v14i2.3111

Keywords:

bahan ajar, bencana, kearifan lokal, mitigasi, Sunda

Abstract

Pendidikan yang berbasis pada budaya lokal dengan berbagai kearifan akan lebih baik untuk membentuk watak dan mengembangkan potensi diri daripada pendidikan yang bersumber dari budaya di luar peserta didik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menginventarisasi, orientasi, dan interpretasi kearifan lokal yang hidup pada masyarakat dan budaya Sunda. Tempat penelitian berada di lima lokasi komunitas adat di Jawa Barat dan Banten yaitu Desa Pangandaran, Kampung Kuta, Kampung Naga, Ciptagelar, dan Kanekes. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa setiap masyarakat adat pada kebudayaan Sunda memiliki bentuk kearifan lokal yang sangat signifikan dalam memitigasi bencana. Pada umumnya masyarakat adat sudah menyadari bahwa jika lingkungan rusak maka akan ditimpa bencana, walaupun cara pemeliharaannya melalui mitos dan aturan adat. Hasil penelitian berupa interpretasi kearifan lokal yaitu ada tiga, yaitu: (1) bangunan rumah bambu; (2) tata ruang dan zonasi penggunaan lahan dalam skala mikro; dan (3) pengelolaan lahan secara ramah lingkungan. Rekomendasi penelitian ini adalah bahwa kearifan lokal sangat layak untuk dijadikan bahan ajar di sekolah dengan berbagai bentuknya baik berupa narasi, cerita, maupun komik.

References

Ayatrohaedi (Ed.). (1986). Kepribadian budaya bangsa. Pustaka Jaya.

Diarta, I. K. S. (2007). Sekali lagi, bangun pariwisata berbasis kearifan lokal. Bali Post. Bali Post

Ekadjati, E. S. (1995). Kebudayaan Sunda (Jilid 1). Pustaka Jaya.

Ernawi, I. (n.d.). Harmonisasi kearifan lokal dalam regulasi penataan ruang. Makalah Seminar Nasional “Urban Culture, Urban Future: Harmonisasi Penataan Ruang dan Budaya untuk Mengoptimalkan Potensi Kota”, Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum.

Firmansyah, M. (2011). Blog pribadi. Maman Firmansyah Blog

Irawan, F. (2013). Bangunan rumah bambu terbaru. Gambar Rumah

Joyce, W., & Alleman, J. (1979). Teaching social studies in elementary and middle schools. Holt, Rinehart and Winston.

Maryani, E. (2005). Baduy sebagai kawasan wisata budaya. Makalah Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Baduy, Serang.

Maryani, E. (2008). Modal sosial sebagai pemersatu bangsa. Makalah Seminar Nasional IPS Tahun 2008.

Maryani, E. (2010). Pengembangan program pembelajaran IPS untuk mengembangkan keterampilan sosial. Alfabeta.

Nasruddin, et al. (2011). Bunga rampai kearifan lokal di tengah-tengah modernisasi. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Respaty Wikantiyoso. (2009). Pengantar buku local wisdom dalam perencanaan dan perancangan kota untuk mewujudkan arsitektur kota yang berkelanjutan. Respaty Wikantiyoso

Salampessy, D. (2008). Pengelolaan sumber daya alam dan tradisi sasi. Dalam S. J. Suhardjo, Geografi perdesaan. Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi UGM.

Santoso, I. (2006). Eksistensi kearifan lokal pada petani tepian hutan dalam pemeliharaan ekosistem sumber daya hutan. Jurnal Wawasan, 2(3).

Sukawi. (2010). Bambu sebagai alternatif bahan bangunan dan konstruksi di daerah rawan gempa. Jurnal Teras, 10(1).

Sulityono. (2005). Nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan air di Gunung Kidul. Laporan hasil penelitian, Fakultas Hukum.

Yumni, M. Z. (2012). Rumah bambu rumah berjuta manfaat. Kabar Indonesia

Published

2014-12-26

How to Cite

Maryani, E., & Yani, A. (2014). Kearifan lokal masyarakat Sunda dalam memitigasi bencana dan aplikasinya sebagai sumber pembelajaran IPS berbasis nilai. Jurnal Penelitian Pendidikan, 14(2), 114-125. https://doi.org/10.17509/jpp.v14i2.3111