Implementasi metode experiential learning dalam pengembangan soft skills mahasiswa yang menunjang integrasi teknologi, manajemen dan bisnis

Authors

  • Rahayu S Purnami Universitas Pendidikan Indonesia
  • Rohayati Universitas Pendidikan Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.17509/jpp.v13i1.3511

Keywords:

fasilitator, pengalaman pembelajaran, softskills

Abstract

Integrasi teknologi, manajemen dan bisnis yang menghasilkan produk yang unggul, inovatif dan kompetitif tidak hanya tergantung pada penguasaan hard skills para pelakunya, namun juga perlu penguasaan soft skills termasuk bagi para mahasiswa. Pembekalan soft skills bagi mahasiswa menjadi sangat penting supaya mereka tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesionalitas (hard skills) saja, namun juga kemampuan intrapersonal dan interpersonal (soft skills). Kemampuan intrapersonal meliputi kesadaran diri dan kemampuan diri. Sedangkan kemampuan interpersonal meliputi kesadaran sosial dan kemampuan sosial. Pembelajaran soft skills mengantarkan peserta didik untuk mengalami perubahan perilaku secara perlahan-lahan sehingga mereka menjalankan, merasakan manfaat yang diperoleh hingga menjadi kebiasaan. Experiential learning merupakan sebuah proses pembelajaran di mana para pembelajar menggabungkan pengetahuan, keterampilan dan nilai melalui pengalaman-pengalaman langsung. Pembelajaran akan lebih optimal apabila para peserta dilibatkan. Ide dan prinsip-prinsip yang dialami dan ditemukan oleh para pembelajar akan lebih efektif dalam perubahan perilaku. Makalah ini memaparkan konsep pengembangan soft skills dengan metode experiential learning dan peningkatan peran dosen sebagai fasilitator.

References

Abdullah, A. (2006, 15 November). Khasanah budaya karaton Yogyakarta [Makalah]. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Arikunto, S. (2006). Penelitian tindakan kelas. Bumi Aksara.

Banks, J. A. (1985). Teaching strategies for the social studies. Longman.

Bates, R., & Holton, E. F., III. (1995). Computerized work performance monitoring: A review of human resource issues. Human Resource Management Review, 5(4), 267–288.

Bertens, K. (2004). Etika. Gramedia Pustaka Utama.

Bjorklund, D. F. (1989). Children’s thinking: Developmental function and individual differences. Brooks/Cole Publishing Company.

Boon, C. C. S. (1997, Desember). The craft of facilitation [Makalah konferensi]. Asia Pacific Conference & Exhibition on Experiential Learning ’97.

Budimansyah, D., & Suryadi, K. (2008). PKn dan masyarakat multikultural. Sekolah Pascasarjana Program Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia.

Chang, W. (2007, 14 Agustus). Merawat reputasi bangsa. Kompas, 6.

Copi, I. M., & Cohen, C. (1994). Introduction to logic (9th ed.). Macmillan Publishing Company.

Creswell, J. W. (2010). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (A. Fawaid, Penerj.). Pustaka Pelajar. (Karya asli diterbitkan 2009).

Daulima, F. (2004). Aspek-aspek budaya masyarakat Gorontalo. Fitrah.

Davis, R. H., Alexander, L. T., & Yelon, S. L. (1974). Learning system design: An approach to the improvement of instruction. McGraw-Hill.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1993). Kurikulum pendidikan dasar: Garis-garis besar program pengajaran SLTP, mata pelajaran matematika.

Djahiri, K. (1984). Strategi pengajaran afektif-nilai-moral VCT dan games dalam VCT. Laboratorium PMPKN IKIP Bandung.

Dolan, D. T., & Williamson, J. (1983). Teaching problem-solving strategies. Addison-Wesley Publishing Company.

Dowdy, S., & Wearden, S. (1991). Statistics for research (2nd ed.). John Wiley & Sons.

Eddy. (2009). Kontinuitas sejarah dan pengembangan kebudayaan nasional dalam pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa. Jurnal IPS, 17(32), 1–6.

Elfindri, dkk. (2010). Soft skills untuk pendidik. Baduose Media.

Elias, J. L. (1989). Moral education: Secular and religious. Robert E. Krieger Publishing Co., Inc.

Emmet, E. R. (1980). Learning to think. Emerson Books, Inc.

Estepp, C. M., dkk. (2012). An experiential learning model of faculty development to improve teaching. NACTA Journal, 56, 79–86.

Fraenkel, J. R. (1977). How to teach about values: An analytic approach. Prentice-Hall, Inc.

Galloway, C. (1976). Psychology for learning and teaching. McGraw-Hill.

Geertz, C. (1992). Tafsir kebudayaan (Refleksi budaya). Kanisius.

Goleman, D. (2005). Kecerdasan emosi untuk mencapai puncak prestasi. Gramedia Pustaka Utama.

Goodstein, L. D., Nolan, T. M., & Pfeiffer, J. W. (1993). Applied strategic planning: A comprehensive guide. McGraw-Hill.

Hakam, A. K. (2007). Bunga rampai pendidikan nilai. Universitas Pendidikan Indonesia.

Hersh, R. H., Miller, J. P., & Fielding, G. D. (1980). Models of moral education: An appraisal. Longman, Inc.

Illeris, K. (2007). What do we actually mean by experiential learning? Human Resource Development Review, 6, 84–95.

Kartini, K. (1982). Psikologi anak. Alumni.

Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan mentalitas dan pembangunan. Gramedia.

Kuntowijoyo. (2006). Budaya dan masyarakat (Edisi Paripurna). Tiara Wacana.

Lickona, T. (1992). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.

Machfiroh, R. (2011). Revitalisasi karakter bangsa melalui pendidikan kewarganegaraan dengan pengembangan budaya lokal (Studi kasus budaya macapat di masyarakat Kota Surakarta Jawa Tengah) [Tesis, Universitas Pendidikan Indonesia].

Mardiwarsito. (1978). Kamus Jawa kuno. Gramedia Pustaka.

Miles, M., & Huberman, A. M. (2007). Analisis data kualitatif: Buku sumber tentang metode-metode baru. Universitas Indonesia Press.

Mitchell, T. R. (1978). People in organizations: Understanding their behavior. McGraw-Hill.

Mohammad, F., dkk. (2005). Menggagas masa depan Gorontalo. HPMIG Press.

Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. SAGE Publications.

Myers, B. E., & Grady, T. R. (2004). Conducting and evaluating professional development workshops using experiential learning. NACTA Journal, 48, 27–32.

Narimo, S. (2009). Karakteristik psiko-sosio kultural manusia dalam Serat Wulang-Reh karya Pakoe Boewono IV (Tinjauan pendidikan informal masyarakat Jawa) [Tesis , Universitas Negeri Yogyakarta].

Ng, J., & Tan, G. (1997, Desember). Uses & abuses of experiential learning: Perspectives from a practitioner and an academic [Makalah konferensi]. Asia Pacific Conference & Exhibition on Experiential Learning ’97.

O’Daffer, P. G., & Thornquist, B. A. (1993). Critical thinking, mathematical reasoning, and proof. In P. S. Wilson (Ed.), Research ideas for the classroom: High school mathematics (pp. 39–56). Macmillan Publishing Company.

O’Donoghue, T., & Punch, K. (Eds.). (2003). Qualitative educational research in action: Doing and reflecting. RoutledgeFalmer.

Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Desain induk pembangunan karakter bangsa tahun 2010-2025.

Polya, G. (1981). Mathematical discovery: On understanding, learning, and teaching problem solving. John Wiley & Sons.

Proudman, B. (1997, Desember). Experiential corporate training: Working with the whole person [Makalah]. Asia Pacific Conference & Exhibition on Experiential Learning ’97.

Purwadi. (2007). Filsafat Jawa dan kearifan lokal. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20Purwadi,%20SS.,M.Hum./2007%20FILSAFAT%20JAWA%20&%20KEARIFAN%20LOKAL.pdf.

Rachmat, M. (1997). Keterserapan materi geometri oleh siswa SLTP kelas 2 caturwulan 1 di Kotamadya Bandung [Laporan Penelitian]. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Retallick, M. S., & Steiner, C. (2009). A model for implementing a college-wide experiential learning program in higher education. NACTA Journal, 53, 2–6.

Robbins, S. R. (2008). Organizational behavior (12th ed.) (D. Angelica, dkk., Penerj.). Penerbit Salemba Empat.

Sagala, S. (2009). Kemampuan profesional guru dan tenaga kependidikan. Alfabeta.

Samani, M., & Hariyanto. (2011). Konsep dan model pendidikan karakter. Remaja Rosdakarya.

Santrock, W. J. (2004). Educational psychology (2nd ed.). McGraw-Hill.

Sapriya. (2008). Perspektif pemikiran pakar tentang pendidikan kewarganegaraan dalam pembangunan karakter bangsa. Jurnal Acta Civicus, 1(2).

Sartini. (2004). Menggali kearifan lokal. Jurnal Filsafat, 37(2).

Senge, P. M. (1996). Leading learning organizations: The bold, the powerful, and the invisible. In M. Goldsmith & F. Hesselbein (Eds.), The leader of the future (pp. 41–54). Jossey-Bass.

Senge, P. M., & Carstedt, G. (2002). Innovating our way to the next industrial revolution. In M. Leibold, G. Probst, & M. Gibbert (Eds.), Strategic management in the knowledge economy. J. Wiley.

Simmons, S. R. (2006). "A moving force": A memoir of experiential learning. Journal of Natural Resources and Life Sciences Education, 35, 132–139.

Soedjadi, R., & Moesono, Dj. (1995). Matematika untuk SLTP (1a s.d. 2a). Balai Pustaka.

Solow, D. (1981). How to read and do proofs: An introduction to mathematical thought processes. John Wiley & Sons.

Stoll, R. R. (1976). Set theory and logic. Eurasia Publishing House.

Supadjar, D. (2005). Wulang wuruk Jawa. Pustaka Dian.

Superka, D. P., Ahrens, C., Hedstrom, J. E., Ford, L. J., & Johnson, P. L. (1976). Values education sourcebook. Social Science Education Consortium, Inc.

Syam, F. (2009). Renungan B. J. Habibie membangun peradaban Indonesia. Gema Insani.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Uzer, U. M. (2001). Menjadi guru profesional. Rosdakarya.

Willig, C. (2008). Introducing qualitative research in psychology. Open University Press.

Wulansari, D. C. (2009). Sosiologi konsep dan teori. Rafika Aditama.

Published

2013-06-28

How to Cite

Purnami, R. S., & Rohayati, R. (2013). Implementasi metode experiential learning dalam pengembangan soft skills mahasiswa yang menunjang integrasi teknologi, manajemen dan bisnis. Jurnal Penelitian Pendidikan, 13(1), 98-104. https://doi.org/10.17509/jpp.v13i1.3511